The Leader Of Future ( Peter F Drucker ) oleh H Onnie S Sandi SE

Prinsip dasar kepemimpinan untuk masa akan datang yang menuntut keahlian dan kemampuan serta integritas yang tinggi, agar organisasi di Indonesia, baik swasta ,Pemerintah dan organisasi lainnya mampu berkompetisi ditengah iklim Globalisasi dan kompetisi yang semakin tajam. hanya organisasi yang memiliki syarat-syarat tertentu dan di pimpin oleh figure tertentu yang mampu membawa bangsa ini ke era persaingan antar negara. Menurut Peter F Drucker dalam bukunya The Leader Of Future adalah sbb;

1. Pemimpin harus mempunyai pengikut.
Pemimpin haruslah memiliki pengikut yang riel, loyal dan memiliki dedikasi yang tulus dan ikhlas melakukan apa yang diinginkan oleh pimpinannya dan juga senantiasa menjaga kehormatan dan kewibawaan pimpinannya, bukan pengikut quasi yang seolah-olah memiliki massa namun nyatanya hanya bayaran, memilki vested interest  atau pengkodisian dengan melibatkan dan mempolitisasi PNS dan perangkat pemerintahan lainnya dengan segala bentuk iming-iming atau intimidasi, memilih pembantunya bukan berdasarkan profesionalisme tetapi atas dasar Like & Dislike ,karena sesungguhnya ada   3 hal pokok mengapa orang tsb mau melakukan dan menjalankan perintah atasan ;

a. Love ( Suka )

Seseorang mau melakukan sesuatu apabila dia  menyukai perintah atau keinginan pimpinannya.

b. Hate ( Benci )

Seseorang ternyata mau melakukan sesuatu apabila membenci pada pemberi perintahnya yang dalam hal ini adalah pimpinannya.

c. Respect ( Respek )

Ini adalah sesuatu yang di dambakan oleh para pimpinan dan bawahan, karena semua tindakan bawahannya dilakukan dengan sepenuh hati karena menyadari dan meyakini bahwa pimpinannya akan membawa organisasi pada sesuatu keberhasilan yang besar dan bermanfaat bagi organisasi dan masyarakat.

2. Pemimpin yang efektif adalah bukan orang yang dicintai atau dikagumi

Pemimpin haruslah bukan orang mencari popularitas dan tebar pesona tetapi mampu menggugah bawahan dan pengikutnya untuk melakukan hal yang besar dan mampu menghasilkan sesuatu pada semua tingkatan management apakah Low Management, Middle Management dan Top Management.

Hal yang terbalik dan terjadi saat ini dan paling  sering kita jumpai yakni politik pencitraan, banyak pemimpin saat ini yang bertindak bagaikan badut atau artis sinetron, yang sangat gemar sekali memasang gambar dirinya dan sangat gemar mebagi-bagikan sesuatu yang seolah-olah dia penderma. Pemimpin yang baik tidak akan pernah memberi ikan tetapi kail, karena dengan kail orang  dituntut untuk berusaha dengan akal, pikiran , waktu dan tenaganya serta memilki kompetensi dan mampu berkompetisi dengan baik. Pemmpin yang baik akan fokus pada tugas, fungsi dan tanggung jawabnya dimana dia berada, apabila dia berada di pemerintahan yang tugas pokokna menjual Public Goods maka dia akan memprioritaskan pembangunan pada hal yang dibutuhkan ( need ) dan dinginkan ( want ) masyarakatnya seperti pendidikan yang murah bahkan gratis sampai tingkat SLTA, kesehatan yang terjangkau pada seluruh lapisan masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pengangguran serta melakukan terobosan untuk terciptanya usaha kerakyatan juga membangun dan memelihara infrastruktur dengan dasar alur transportasi ekonomi menjadi lancar sehingga membangkitkan ekonomi pedesaan bukannya membangun pada hal-hal yang tidak substantif tetapi demi pencitraan dan popularitas belaka.

3. Pemimpin, adalah orang yang memberi teladan

Pemimpin harus mampu memberi keteladanan dan memiliki kemampuan baik dalam tehnik skill, konseptual skill dan human skill juga memiliki integritas yang baik dan konsisten atau istiqomah dan memiliki kemampuan serta keberanian untuk membangun pemerintahan yang Good Goverment dan Clean Goverment. Islam telah mengajarkan tentang kepemimpinan dari mulai keteladanan Nabi Muhammad SAW,  Sayidina Umar dll, dalam mencari pemimpin  hendaknya seseorang diangkat atau dipilih berdasarkan sbb;

  • Sidiq artinya pinpinan adalah orang yang memilki integritas yang baik.
  • Tabligh artinya mampu menyampaikan sesuatu yang baik dan memberi keteladanan yang baik.
  • Amanah artinya pimpinan harus jujur, ikhlas dan tanpa pamrih.
  • Fatonah arinya pimpinan harus memilki kecerdasan dan kemampuan.

4. Kepemimpinan bukanlah jabatan, hak istimewa, gelar atau uang tetapi adalah tanggung jawab.

Sudah sangat langka sekali kita mendapatkan pimpinan yang seperti ini, padahal ketika jaman perjuangan kemerdekaan RI, sejarah membuktikan banyak dari pimpinan perjuangan baik militer dan politik mencerminkan tanggung jawab, kesederhanaan dan mendahulukan bawahannya dalam hal kesejahteraan, bandingkan dengan keadaan saat ini justru yang terjadi melempar tanggung jawab kepada bawahannya, mendahulukan kepentingannya dan golongannya bahkan mengharapkan upeti dari bawahannya.

Dalam Pemilukada banyak para kandidat yang menjanjikan dan memberi sesuatu, bukan menjual tentang figur, kapabilitas, pengalaman dan integritas dirinya, tetapi hanya menjalankan politik pencitraan dengan cara instant yaitu menebar pamflet, brosur, baligo, spanduk dll dengan sebanyak-banyaknya tanpa mengerti kapan melakukan penetrasi dan kapan melakukan intensifikasi & ekstensifikasi serta kapan melakukan ekspansi sehingga promosi yang dilakukan cenderung monoton dan menghambur-hamburkan biaya yang tidak perlu, padahal dalam ekonomi berlaku  hukum The Low Of Deminishing Return yaitu hukum pertambahan yang berkurang artinya hukum ini berlaku tidak hanya  dalam produksi tetapi juga berlaku dalam promotion. Cara instant dan pragmatis seperti ini pada akhirnya hanya melahirkan figur yang tidak dibutuhkan, tidak cakap dan tidak memiliki kompetensi & kapabilitas serta integritas tetapi hanya menghasilkan pemimpin yang populer sehingga bagi masyarakat  pada  akhirnya hanya  melahirkan kekecewaan, apatisme, masa bodoh dan pesimisme.

Hal lain yang kadang dilakukan Kandidat dengan menganggap suara dapat dibeli dengan uang artinya secara tidak langsung sudah memandang rendah masyarakatnya sendiri dan secara tidak langsung sudah memulai untuk melakukan korupsi atau paling tidak penyuapan, padahal jelas-jelas Islam mengharamkan & menghukum penyuap dan yang disuap dengan api neraka.

Tindakan kandidat seperti ini akhirnya melahirkan dan membentuk masyarakat menjadi pragmatis, karena telah berkali-kali dianggap sebagai objek, pada saat kandidat melakukan sosialisasi atau kampanye mereka merasa inilah saat yang tepat untuk  menjadi subjek sehingga mereka mulai menuntut atau meminta sesuatu dari kandidat, namun ternyata dari berbagai pengkajian janji dari masyarakat dengan dana tertentu akan menghasilkan  suara tertentu acapkali tidak mengandung kebenaran, karena  fenomena di tengah masyarakat saat ini bermunculan, spekulan ,oportuniti, makelar, broker politik yang hanya mencari keuntungan materi saja. Selama pola seperti ini masih dilakukan dan terus terjadi dimana kekuasaan dan uang masih menjadi panglima,  kualitas pemimpin seperti prinsip dari The Leader Of Future masih sulit di dapat, kecuali jika para Ulama, Tokoh Masyarakat, Akademisi, Cendikiawan, Pendidik dan  kaum intelektual  mampu memberi pencerahaan kepada masyarakat bagaimana memilih pimpinan yang Sidiq, Tabligh, Amanah dan Fatonah, tanpa ada rasa takut, khawatir, memiliki nurani, memiliki tanggung jawab untuk lima tahun kedepan, maka perubahan itu pasti ada dan akan terjadi, seperti Firman Allah SWT, ” Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri. Semoga…….

( H Onnie S Sandi SE, Pemerhati masalah politik di Purwakarta }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s